601 Thullab/Tholibat Baru Ma’had DQH NW Anjani Siap Ditempa

Published › July 22, 2011 0 Comments

Suralaga;

Kendati zaman sudah modern, tapi kalangan remaja khususnya di pulau Lombok ini masih banyak yang peduli dengan ilmu agama. Hal ini terlihat dari membeludaknya para tamatan Madrasah Aliyah (MA) atau Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang masuk untuk menuntut ilmu agama di perguruan tinggi Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits NW Anjani.
Pada gelombang pertama 601 thullab dan tholibat (mahasiswa/wi) baru Ma’had DQH NW Anjani, Sabtu (16/07) mengawali masuk diperguruan tinggi Ma’had DQH, dengan pencukuran rabut kepala sampai botak bagi thullab (laki) dan stempel bagi tholibat (wanita), dengan rincian thullab baru 309 orang sedang tholibat baru 292 orang.
Kegiatan cukuran massal seperti ini adalah tradisi yang ditinggalkan pendiri Ma’had, yang juga pendiri organisasi NW, al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid semasa hayatnya.
Cukuran ini dimaksudkan agar ketika memasuki perguruan tinggi Ma’had, yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama, bisa meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik sebelum masuk di Ma’had seperti rambut mereka yang di buang (di gundul kepalanya red).
Disamping itu pencukuran rambut ini, kiranya bisa menjadi langkah yang positif dalam menggali ilmi-ilmu yang ada di Ma’had.
Secara zohir (nyata), mereka dibersihkan rambut-rambut mereka yang tidak baik, dengan harapan nantinya akan tumbuh rambut-rambut yang bersih setelah duduk di Ma’had. Dan yang terpenting mampu membuat thullab-tholibat menjadi tawaddu’ dan berserah diri kepada Allah.
Pada cukuran massal tahun ini, hadir Mudir (Rektor .red.) Madrasah Ash-Shaulatiyah Makkah al-Mukarromah Maulana Syaikh Majid Said Mas’ud Salim Rahmatullah al-Makky dan ulama’ besar ahli Hadits dari Kota Suci Makkah al-Mukarromah, Syaikh Sayyid Ayyub Abkar Asad Bin Ali al-Ahdal al- Yamany al-Makky, Ketua Umum PB NW Ummi Hj. Sitti Raihanun ZAM, Muroqibul Ma’had Raden Tuan Guru Bajang K.H.Lalu Gede.M.Zainuddin Atsani, Lc., dan Dewan Masyaikhul Ma’had.
Selain cukuran massal gelombang pertama, pada hari itu juga dilakukan pengijazahan kitab bagi calon Mutakharrijin/jat angkatan 45 yang akan menamatkan studinya di perguruan tinggi Mahad pada tahun ini.
Pada tahun 1432 H. ini Ma’had mengeluarkan lulusan 393 thullab/tholibat dengan rincian banin (pria) sebanyak 184 dan banat (wanita) 209.

Ahad (17/07) adalah hari puncak Adzikrol Hauliyyah (ulang tahun) Mahad ke 46 yang dipusatkan di Masjid Jami’ Darul Qur’an Wal-Hadits dan berlangsung sangat hidmat. Ribuan Mutakharrijin/ Mutakharrijat (alumni ma’had) dari angkatan pertama sampai angkatan 45 tumpah ruah di Lapangan Kampus Ma’had DQH NW Anjani dan halaman Masjid.
Mudir (Rektor red.) Madrasah Ash-Shaulatiyah Makkah dan Syaikh Ayyub sangat bahagia melihat begitu antusiasnya warga NW dan Mahad menyambut kehadirannya.
Dalam pengajiannya Syaikh Sayyid Ayyub, yang diterjemahkan TGH.Zaini Abdul Hanan,Lc, menegaskan bahwa bagi penuntut ilmu agar bersungguh-sungguh dalam belajar dan jangan malas. Karena malas dan kebodohan adalah penyakit. Ahli ilmu kendati sudah meninggal, namun namanya selalu hidup karena ilmu yang dimiliki diamalkan, lain halnya orang bodoh kalau sudah meninggal tidak ada yang mengenangnya.
“Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya, barang siapa yang memiliki ilmu maka hidupnya akan bercahaya. Dan dalam satu hadits dijelaskan semua hanya bisa diraih dengan ilmu,” ujar Syaikh Ayyub seperti yang diterjemahkan TGH.Zaini.
Sedangkan Mudir Shaulatiyah Syaikh Majid Said, dalam irsyadatnya mengatakan bahwa bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan perintah Allah, demikian juga pemimpin. Jika hal itu dilaksanakan sungguh-sungguh dan ikhlas maka karunia Allah akan cepat turun kepada kita. Ingatlah bahwa setiap perbuatan yang mempunyai nilai besar pasti akan mendapatkan ujian yang besar pula, jadi istiqamahlah, jangan menyerah ditengah perjalanan, Allah bersama orang-orang yang sabar.
Dalam sambutannya raden TGB.KH.Lalu Gede,M.Zainuddin Atsani, Lc., mengajak keluarga besar ma’had baik yang sudah tamat maupun yang masih belajar untuk tetap mengamalkan wasiat Maulana Syaikh melalui praktik yang nyata, jangan hanya kita bisa bicara namun tidak diaplikasikan dengan perbuatan nyata. “Jangan hanya kita menganggap Maulana Syaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid sebagai guru, namun apa yang telah diwasiatkan beliau tidak kita amalkan dan realisasikan, ini yang saya tidak inginkan,”tegasnya.
Apalagi lanjut TGB.Zainuddin Atsani, ada alumni mahad dan Saulatiyyah tidak berani menaruh NW pada madrasah yang dibuatnya. Bagi saya ini sudah tidak benar, kenapa kita takut menaruh NW pada nama madrasah kita, sedangkan Mudir Madrasah Ash-Shaulatiyah begitu senang ada nama Shaulatiyah di dalam hizib Nahdlatul Wathan, lalu kenapa kita sebagai alumni NW tidak senang menaruhkan kata NW pada madrasahnya.
“Saya sedih dan perihatin ada orang NW yang takut menaruh kata NW pada madrasah yang dibuatnya,”tandasnya.
Kepada warga NW dan mahad lanjut TGB, mari kita selangkah seayun memperjuangkan NW, jangan karena ada apa-apanya, ikhlaskan diri, jaga mahad, jaga NW dan jangan rusak mahad dan NW, itu pesan guru besar kita. (da-1)

Berlangganan Pengetahuan Baru ke email anda

Your Comment